Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir GRATIS setiap hari Minggu. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Hannah

Integritas iman Elkana dan Penina
Kitab 1 Samuel dibuka dengan seorang lelaki bernama Elkana, dan Alkitab langsung langsung menyebutkan sebuah masalah : Elkana memiliki 2 istri. Jelas ini bertolak belakang dengan desain Tuhan di mana seorang suami hanya boleh menikahi satu istri. Meskipun begitu, setiap tahun Elkana pergi mempersembahkan korban kepada Tuhan (ay 3). Hidup Elkana menunjukkan iman yang tidak konsisten.

Sama halnya dengan Penina, istri kedua dari Elkana. Penina kerap kali menyakiti Hana. Salah satu alasan yang masuk akal adalah karena Penina mengingini posisi Hana sebagai istri pertama, yang memegang hak untuk mengatur rumah tangga. Penina ikut mempersembahkan korban, tetapi di dalam perjalanannya, ia terus menyakiti Hana. Apakah cara hidup kita mencerminkan hidup seorang anak Tuhan? Atau kita menjalani hidup sebagai seorang yang munafik?

Pergumulan Hana di hadapan Tuhan
Pergumulan Hana sangatlah kompleks. Pertama, suaminya mengambil istri kedua. Kedua, Tuhan menutup kandungannya. Ketika, ia hidup di kultur di mana seorang istri harus dapat memberikan keturunan, terutama seorang anak lelaki. Keempat, Penina, sang istri kedua, memiliki beberapa anak dan terus-menerus menyakiti hati Hana. Tidak terbayang seperti apa rasa sedih, marah, kecewa dan malu yang dirasakan Hana. Meskipun Elkana sangat mengasihi Hana (dengan memberikan hasil persembahan yang lebih banyak dibanding Penina dan anak-anaknya), kesedihan Hana membuat ia menangis dan tidak mau makan (ay 8).

Di tengah kesulitan hidup, manusia memiliki dua pilihan : lari kepada Tuhan atau kepada hal-hal lain di luar Tuhan. Hana dapat memilih untuk mabuk anggur, mencari pasangan lain, atau larut dalam kepahitan. Namun yang ia lakukan adalah berdoa di hadapan Tuhan, dengan hati pedih dan menangis tersedu-sedu. Di dalam doanya, ia tidak langsung datang dengan keinginan hatinya. Ia mengakui kebesaran Tuhan. “TUHAN semesta alam…”(ay 11). Ia ingat bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat, Allah yang tidak melupakan anak-anakNya yang datang dengan sungguh-sungguh dan rendah hati.

Lalu ia menyatakan permintaannya dihadapan Tuhan, diikuti oleh sebuah janji. Ia menginginkan anak laki-laki, dan jika Tuhan memberikannya, Hana akan mempersembahkan anak laki-laki ini kepada Tuhan. Imam Eli yang mendengar cerita Hana ini pun berkata,”Pergilah dengan damai” (ay 17). Dan sesudah itu Hana mau makan dan ia berhenti muram. Inilah kekuatan doa, yang memberikan damai yang diluar akal budi kita! Bahkan ketika akhirnya Hana diberikan seorang anak, ia rela untuk menyerahkan anaknya. Karena ia tahu, ada atau tanpa anak, Hana sudah melihat Tuhan yang maha kuasa bekerja di dalam hidupnya. Dan itu lebih dari cukup!

Kita melihat bagaimana Tuhan memakai orang-orang yang penuh kekurangan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Hana hanyalah seorang ibu rumah tangga, tetapi Tuhan mendengar doanya, memberikan seorang anak yang nantinya menjadi nabi yang dipakai Tuhan di dalam sejarah Bangsa Israel. Tuhan sanggup memakai kita, di dalam kelemahan kita, jika kita mau membuka hati dan datang kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana bila doa kita tidak dijawab?
Ketika kita ada di dalam keadaan yang sulit, ingatlah bahwa Tuhan mengetahui langkah hidup kita dari awal sampai akhir. Terkadang permintaan kita tidak dijawab oleh Tuhan, bukan karena Tuhan tidak peduli, tetapi karena Ia memiliki maksud lebih besar dan mulia daripada keinginan kita. Doa Yesus di Getsemani tidak dijawab oleh Allah Bapa karena ada rencana keselamatan besar yang Allah sudah rencanakan. Rasul Paulus berdoa kepada Tuhan, meminta supaya “duri dalam daging”-nya diangkat (2 Kor 12). Namun Tuhan menjawab,”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Apakah kita mau belajar untuk percaya kepada Tuhan, yang berkuasa atas alam semesta ini, dan memperhatikan kesengsaraan kita, mengingat kita, dan tidak melupakan kita?