Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir GRATIS setiap hari Minggu. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Orang Kristen dan 5 Panca Indera Super

Ketika Peter Parker, seorang siswa berusia 15 tahun di New York, mengunjungi sebuah pameran ilmiah tentang limbah nuklir, tangannya digigit oleh sebuah laba-laba kecil yang telah ter-ekspose kepada radiasi partikel nuklir. Ia tidak menyadari perubahan apapun sampai dalam perjalanan pulang ketika sebuah mobil nyaris menabrak dia. Peter mendadak mampu berkelit secepat kilat dan melompat jauh! Dia lalu sadar dia memiliki sebuah kekuatan baru, dan lahirlah seorang superhero bernama Spider-Man!

Orang Kristen sebenarnya tidak jauh berbeda. Saat Kristus datang dan mendiami hidup kita, ada suatu transformasi yang luar biasa terjadi. Ia melahirbarukan kita. Kita menjadi manusia baru. Ada ‘firman yang tertanam’ (implanted word) di dalam hati kita (Yak 1:21). Ia menjadikan dunia ini dengan firmanNya, dan firman yang sama itu sekarang ada dalam tubuh kita. Sama seperti sebuah alien DNA disuntikkan dalam tubuh kita sebagaimana kita saksikan di film-film Hollywood, firman kebenaran tersebut taken up residence dalam diri orang percaya. Kristus Yesus sendiri, Firman yang telah menjadi daging itu, sekarang tinggal dalam diri kita melalui RohNya. Itu sebab kita disebut sebagai partisipan dalam natur ilahi (partakers of divine nature, 2 Pet 1:4). Ini jauh lebih dahsyat dibanding gigitan laba-laba radiasi!

Tentu dengan natur ilahi tersebut, tidak berarti orang Kristen bisa terbang ke planet lain, berlari lebih cepat dari Shinkansen, atau membengkokkan tiang lampu jalan seperti jelly bean. Namun coba simak perubahan yang terjadi karena natur ilahi dalam diri kita. Dalam bahasa Yakobus, kita menjadi “cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” Demikian pula ada suatu perubahan menakjubkan pada kelima panca indera kita:

Penglihatan – Tadinya mata kita hanya mampu melihat apa yang kelihatan di sekitar kita. Sekarang kita mampu melihat yang tidak kelihatan, yaitu “cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah” (2 Kor 4:4), “keajaiban-keajaiban dari Taurat Allah” (Mzm 119:18). Mata kita tidak lagi tertarik pada kemilau dunia karena semua itu mendadak kehilangan pesonanya (1 Yoh 2:16) dibanding dengan kemilau kemuliaan Allah.

Pendengaran – Dulu kita hanya mendengar suara-suara dunia, Setan, dan kedagingan kita yang membuat kita terkadang melambung tinggi, terkadang berlinang air mata. Natur ilahi membuat kita mampu menangkap suara Allah yang lirih di tengah hiruk-pikuk suara-suara tersebut. Dulu kita bertelinga, tapi tidak pernah benar-benar mendengar. Karena Tuhan Allah telah membuka telinga kita, dan “setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” (Yesaya 50:5).

Penciuman – Hidung kita sekarang sensitif terhadap aroma Kristus yang tadinya kita sama sekali tidak hiraukan. Kita sekarang paham mengapa kematian Kristus bagi orang berdosa adalah persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Ef 5:2). Jika mengikut Kristus terkadang berarti penderitaan (mis. dicela atau didiskriminasi di kantor), kita tahu bahwa kita sedang menyebarkan keharuman pengenalan akan Kristus di tempat tersebut (2 Kor 2:14). 

Pengecap – Lidah kita sekarang dapat mengecap dan melihat kebaikan Tuhan dalam setiap ranah hidup kita (Mzm 34:9), tidak lagi take for granted semua itu. Tadinya cuek sama sekali, sekarang kita goyang lidah dan berkata “Hmm, janji Tuhan lebih manis dibanding madu Australia!” (band. Mzm 119:103). Fungsi lidah kita pun juga dirombak total. Tidak lagi dipakai untuk mengutuk, mengadu domba, menebar gossip. Melainkan “dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” (Yesaya 50:4).

Peraba – Tangan kita rindu untuk terus mendengar undangan Tuhan Yesus yang kepada Tomas, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah” (Luk 24:39). Kita rindu perjumpaan pribadi dengan Yesus khususnya saat kita diliputi dengan keraguan akan kasihNya. Hasrat untuk mengalami Tuhan secara pribadi inilah yang membuat kita tekun bekerja dengan tangan kaki kita dalam pekerjaan Tuhan.

Dalam Kristus, Anda dan saya menjadi manusia baru dengan 5 panca indera yang bermetamorfosis menjadi sangat peka dan tajam. Melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba hal-hal ilahi yang tadinya kita tak pernah kenali. Jangan sia-siakan panca indera super Anda. Ingat, with great power comes great responsibility.