Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir GRATIS setiap hari Minggu. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Hati-hati Bikin Agama Sendiri!

Kita mungkin tidak pernah bakalan bermimpi untuk membuat agama sendiri. Tetapi secara tidak langsung, inilah yang Paulus peringatkan kepada kita di Kolose 2:16-29. Terlebih lagi kita, perlu ingat bahwa peringatan ini ia tujukan kepada gereja Tuhan, bukan pada orang-orang penyembah berhala di luar sana. Kita mungkin tidak asing dengan konsep penyembahan berhala, artinya menyembah Tuhan yang salah. Tuhan yang salah muncul dalam bentuk bentuk kepercayaan yang tidak berdasarkan kebenaran Alkitab, atau hal-hal seperti karir, pekerjaan, keluarga, bahkan pelayanan sekalipun. David Clarkson, seorang tokoh Puritan, menulis juga bahwa bentuk penyembahan berhala lain adalah menyembah Tuhan yang benar dengan cara yang salah.

Di dalam konteks banyak gereja hari ini, kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, kita mengamini beragam pengakuan iman bersejarah seperti Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea dan lain seterusnya. Kita mendukung teologia reformasi, dan seterusnya. Semuanya baik, penting, dan perlu bagi kesehatan sebuah gereja. Tetapi, secara sadar atau tidak, kita masih saja bisa menambahkan sesuatu di atas Kristus untuk dapat diterima sepenuhnya oleh Allah. Ada tiga jenis penyimpangan yang Paulus sinyalir di ayat-ayat ini:

  • Legalisme (aturan buatan manusia/tidak berdasarkan Alkitab)
    Kita diterima Allah bukan saja melalui Kristus, tetapi juga dengan aturan-aturan tertentu yang entah kita ikuti secara tradisi atau kita buat-buat sendiri.
  • Mistisisme (pengalaman rohani).
    Kita diterima Allah bukan saja melalui Kristus, tetapi juga melalui pengalaman rohani tertentu. Biasanya bersifat emosional, spektakuler dan kurang bisa dipertanggungjawabkan dari Alkitab.
  • Asketisisme (disiplin rohani).
    Kita diterima Allah bukan saja melalui Kristus, tetapi juga karena ketekunan kita memelihara disiplin rohani tertentu.

Salah satu problemnya adalah kita cenderung menekankan penambahan-penambahan ini untuk menilai kerohanian diri kita atau orang lain. Penambahan-penambahan ini menjadi sesuatu yang kita kejar dan cari-cari. Kita mengukur pertumbuhan dan kedekatan kita (dan orang lain) dengan Tuhan berdasarkan aturan, pengalaman, dan disiplin tertentu. Sehingga, seperti Paulus katakan, akhirnya kita tidak berpegang teguh kepada Kristus, yang melalui-Nya justru kita mendapatkan pertumbuhan yang sejati.

Inilah bahaya menciptakan agama kita sendiri! John Owen, tokoh Puritan yang lain mengatakan bahwa, “Menaklukkan diri dengan kekuatan sendiri, dengan cara-cara buatan sendiri, dengan tujuan untuk membenarkan diri sendiri, adalah inti dan substansi dari semua kepercayaan palsu di dunia.”

Di sinilah Paulus kembali memanggil kita kepada akar dan sumber pertumbuhan kita, yaitu di dalam dan melalui Yesus Kristus. Tentunya kita tetap dipanggil untuk taat, mengalami Tuhan, serta mendisiplinkan diri. Tetapi semua itu kita jalankan karena dan demi Kristus. Sehingga kalau saya boleh mengutip ulang John Owen, kita dapat mengatakan bahwa: Menaklukan diri dengan kekuatan dari Allah, dengan cara-cara yang Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya, dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan, adalah inti dan substansi dari kepercayaan yang sejati