Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir GRATIS setiap hari Minggu. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Gereja Reformasi Butuh Di-reformasi

Ecclesia reformata, semper reformanda secundum verbi Dei

Demikian kalimat lengkap teolog Belanda van Lodenstein yang kemudian menjadi salah satu slogan reformasi.  Artinya: Gereja Reformasi, selalu perlu direformasi sesuai dengan firman Allah. Mengapa penting untuk memahami kalimat ini bagi seluruh gereja Kristen yang lahir dari gerakan Reformasi di abad ke-16 itu?

Berada dalam dunia yang telah jatuh dan dipenuhi oleh orang-orang yang telah jatuh, gereja senantiasa bergerak kearah yang menjauhi standar kebenaran firman Allah. Gereja bergerak secara sentrifugal menjauhi titik pusatnya, yaitu Injil Kristus Yesus.

Westminster Catechism (25:5) mengingatkan kita bahwa gereja yang paling murni sekalipun di dunia ini akan rentan terhadap penyelewengan dan kesalahan, dan bahkan beberapa sangat korup sehingga tidak bisa lagi disebut gereja Kristus karena mirip dengan penyembahan kepada Setan. Kapan hal ini terjadi? Berulang kali dalam sejarah sampai hari ini!

Coba simak gereja Korintus di abad ke-1, misalnya. Maraknya kubu-kubu di gereja, konflik antar anggota gereja di pengadilan, mabuk saat perjamuan kudus, arogansi karena memiliki talenta di depan publik, doktrin sesat tentang kebangkitan, dan seterusnya. Kalau bukan karena anugerah Tuhan, gereja Korintus terus berdegradasi menjadi gereja Setan.

Kepada gereja-gereja di Galatia, Paulus sebagai ayah rohani dengan kasih namun tegas menegur, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain” (Gal 1:6). Demikian juga peringatan Yesus dengan keras kepada 7 gereja di kitab Wahyu. Bahkan reformasi yang digemakan oleh Calvin, Beza, Turretin dan lainnya di Geneva abad ke-16 dan ke-17 tidak bertahan lama. Karena di awal abad ke-18, gerakan ini luntur, dan tidak pernah lagi mengalami kebangkitan sampai hari ini!

Itu sebab kita perlu memahami kalimat diatas “Gereja Reformasi, selalu perlu direformasi sesuai dengan firman Allah”. Ada 3 hal yang mengemuka:

Pertama, gereja Reformasi ditulis dengan R (huruf besar) karena gereja yang mengaku sebagai gereja Reformasi adalah gereja yang memegang pengakuan iman Reformasi, yaitu Belgic Confession, Heidelberg Catechism, the Canons of Dort, dan Westminster Confession. Keempat pengakuan iman ini dengan harmonis menguraikan dasar-dasar iman Kristen untuk menolong gereja memiliki fondasi dan stabilitas doktrin yang teguh dari zaman ke zaman.

Kedua, frase semper reformanda ditulis dalam bentuk pasif. Artinya bukan gereja mereformasi diri sendiri karena kemauan sendiri dan dengan kemampuan sendiri, karena ingin inovatif dan progresif (misal, kotbah Minggu ditiadakan dan diganti drama rohani). Tetapi artinya adalah gereja dibentuk ulang oleh sebuah agen eksternal, yaitu Allah Roh Kudus, untuk kembali sesuai dengan sebuah standar.

Ketiga, sesuai dengan firman Allah, berarti reformasi tidak ditentukan oleh dan disesuaikan dengan trend budaya atau temuan ilmu pengetahuan terbaru.  Namun mengembalikan apa yang sudah hilang, luntur, atau bergeser. Itu sebab motto Reformasi bukan “Maju!” tetapi “Kembali!”, yaitu “Kembali ke Sumber” (ad fontes).

Hari ini sebagian gereja yang meninggalkan tradisi iman yang diwariskan dari generasi ke generasi (misal, liturgi dalam ibadah yang sarat dengan prinsip dan pola Allah), dan sebagian lagi bersikeras memegang tradisionalisme yang dijadikan berhala (misal, ibadah hanya boleh pakai piano dan drum berasal dari Setan). Keduanya perlu direformasi!

Mereka lupa beda tradisi dan tradisionalisme yang pernah ditulis oleh Jaroslav Pelikan. Tradisi adalah iman yang hidup dari orang-orang yang sudah mati (yang kita harus terus jaga dan wariskan selama itu sejalan dengan firman Allah). Tradisionalime adalah iman yang mati dari orang-orang yang masih hidup (yang kita perlu tinggalkan dan jauhi).

Namun kita perlu bersyukur kepada Allah Tritunggal karena meski banyak gereja yang sesat, tutup, dilelang, atau dibom, di bumi ini gereja tidak akan pernah lenyap. Karena Kristus pernah menyatakan “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Kiranya Allah Tritunggal berbelas kasih kepada gereja-Nya demi nama-Nya sendiri.