Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir GRATIS setiap hari Minggu. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Berelasi dengan Hikmat, Berhikmat dalam Relasi

Apa itu bijaksana atau hikmat? Bijaksana itu adalah sebuah kapasitas untuk memahami bagaimana menjalani dengan harmonis dalam semua kompleksitas setiap bagiannya.

Definisi di atas secara implisit diberikan oleh Yakobus ketika ia melontarkan pertanyaan retorisnya kepada orang percaya, “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan” (Yakobus 3:13). Ayat ini adalah ayat kunci untuk kita memahami apa artinya menjadi seorang yang berhikmat.

  1. Bijaksana tidak ada kaitannya dengan pengetahuan kita (atau kepiawaian kita memamerkan apa yang kita tahu). Punya gelar yang tinggi tidak menjadikan kita bijak – seorang maling jemuran yang belajar corporate finance hanya akan naik kelas menjadi maling saham. Ada pengusaha yang sukses yang diceritakan dalam Injil Lukas pasal 12 yang disebut ‘orang bodoh’ oleh Tuhan Yesus. Tahu banyak tentang doktrin, supralapsarianisme misalnya, tidak membuat kita bijak, khususnya bila itu tidak ada kaitan dengan hidup kita.
  1. Bijaksana kita terbukti dari cara kita hidup. Yakobus 13:13 dalam versi the Message ditulis sebagai berikut “It’s the way you live, not the way you talk, that counts.” Anda mungkin terkesima mendengar ceramah atau khotbah seseorang, lalu berkesimpulan bahwa pembicara itu luar biasa berhikmat. Ini salah kaprah! Menurut Yakobus, untuk menguji apakah pembicara tersebut sungguh adalah seorang berhikmat, anda harus menginap di rumahnya selama 1 minggu dan melihat gaya hidupnya sehari-hari.
  1. Bijaksana kita terbukti dari cara hidup kita yang baik. Kata “baik” yang dipakai di sini tidak merujuk kepada baik secara moral atau karakter, tetapi baik dalam arti indah secara estetik. Artinya, setiap elemennya berada dalam porsi yang tepat. Hidup yang bijak itu indah karena semua berjalan dalam harmoni – kerja, istirahat, keluarga, pelayanan, dst. Hidup ini seperti menjadi daya tarik bagi orang lain – kata ‘baik’ yang sama dipakai di Matius 5:16, ketika orang melihat perbuatan baik kita, mereka memuliakan Bapa yang di surga.
  1. Bijaksana itu terbukti secara konkrit dalam sebuah relasi kita dengan orang lain. Baik dalam keluarga, di gereja, di kantor. Coba amati 7 karakteristik yang Yakobus berikan untuk melukiskan gaya hidup yang baik: murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak, dan tidak munafik. Ini sangat literal implikasinya. Saat Anda melihat sahabat anda sukses, apakah Anda dapat ikut bersukacita dengan dia dengan hati yang murni atau anda diam-diam iri hati terhadap dia? Apakah anda mudah menerima masukan dan kritikan, atau anda mudah tersinggung dan marah bila ada orang yang menunjukkan kesalahan anda? Dan seterusnya.
  1. Bijaksana selalu diikuti dengan kelemahlembutan. Ini yang dimaksud “hikmat yang lahir dari kelemahlembutan” (Yak 3:13) Tidak ada orang bijak yang sombong. Orang bijak selalu rendah hati karena ia tahu, bila ia berhasil, setiap hal yang membuat ia dapat berhasil berasal dari Allah. Dan bila ia gagal, ia tahu bahwa Allah yang berdaulat senantiasa turut campur dalam hidupnya untuk membentuknya serupa Kristus. Orang yang bijak itu rendah hati, karena ia tahu bahwa Allah berdaulat. 
  1. Bijaksana itu seorang Pribadi. Berlainan dengan konsep dunia, Alkitab memberitahu kita bahwa bijaksana itu bukan sebuah fakta, ilmu, atau sistem yang abstrak. Bijaksana yang ada di balik semua keteraturan seluruh planet dalam galaksi kita adalah Bijaksana yang telah menjadi daging dan ada di antara kita. Ia ingin berelasi dengan kita. Ia adalah Yesus Kristus, “yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30). Jadi bagaimana kita dapat berhikmat? Menuntut ilmu yang abstrak di universitas bukan jawabannya. Memiliki relasi pribadi dengan Kristus Yesus, Sang Hikmat itu, menolong kita menata seluruh relasi dalam hidup kita menjadi harmonis dan indah.