Times & Directions Give

Reaching the Lost,
Teaching the Reached
to Live a Christ-centered Life

Kebaktian Minggu (Sunday Service)

10:30 pagi - 12:15 siang

Sekolah Minggu (Sunday School)

10:30 pagi - 12:00 siang

Parkir GRATIS setiap hari Minggu. Informasi selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Indonesian Christian Church

Werner Brodbeck Hall, 156 Collins Street

Melbourne, Victoria 3000

navigate Xclose

Area Rawan Hidup Kristen

Kalau anda cukup sering membaca Alkitab, maka cepat atau lambat anda akan menemukan bahwa hidup Kristen adalah hidup yang penuh kerawanan. Baik Yesus Kristus maupun para murid-Nya berulang kali menekankan agar kita berhati-hati, waspada, berjaga-jaga dan lain seterusnya. Di perikop Yakobus 4:1-4 ini kita melihat pesan yang sama. Yakobus mewanti-wantikan bahwa setiap kita berada di dalam bahaya kehilangan Tuhan dan membiarkan dunia mempengaruhi cara berpikir dan hidup kita. Tiga area yang Yakobus mau kita perhatikan adalah:

  1. Keinginan hati kita (4:1-2a)
    Keinginan dalam konteks ini adalah keinginan yang egois, yang berpusat pada diri sendiri. Keinginan yang secara sadar atau tidak selalu bertanya, “What’s in it for me? Aku bisa dapetin apa dari situasi atau orang ini?” Keinginan inilah yang Yakobus katakan menjadi sumber dari berbagai konflik entah itu antar pribadi di dalam keluarga, di tempat kerja, dan juga di gereja. Cara berpikir dan keinginan-keinginan yang berpusat pada diri sendiri (me-centred desires) ini akhirnya menghasilkan gaya hidup yang juga berpusat pada diri sendiri (me-centred living). Setiap area hidup kita akhirnya hanya berorientasi dan berpusat pada apa yang memuaskan keinginan hawa nafsu kita saja. Cara kita menguji apakah keinginan kita adalah keinginan yang berdosa adalah dengan bertanya: apakah saya rela berbuat dosa untuk mendapatkannya, dan apakah saya berbuat dosa waktu saya tidak mendapatkannya? Kalau jawaban salah satu atau dua-duanya adalah ‘ya’, anda punya keinginan yang berdosa dan berpusat pada diri sendiri.
  2. Doa-doa kita (4:2b-3)
    Doa kita menunjukkan apa yang menjadi prioritas hidup kita. Yakobus mulai dengan mengecam orang-orang yang tidak berdoa sama sekali. Waktu kita tidak berdoa kita sebetulnya sedang mengatakan bahwa kita adalah Tuhan. Kita lebih tahu, lebih bisa, dan lebih bijaksana daripada Tuhan, untuk itu ngapain kita berdoa? Tetapi juga persoalan lain kita adalah kita ‘salah berdoa’, artinya, kita hanya berdoa untuk memuaskan keinginan kita saja (lihat poin 1 di atas). Waktu kita salah berdoa kita sedang mengatakan bahwa kitalah yang mengatur Tuhan. Tuhan hanya eksis untuk menyetujui prioritas, rencana dan keinginan-keinginanku.
  3. Hal-hal yang kita cintai (4:4)
    Ayat ini adalah salah satu dari sekian ayat yang paling keras di Alkitab. Kalau boleh pakai bahasa sehari-hari, Yakobus menyebut pembacanya sebagai pelacur dan gigolo! Dengan kata lain orang-orang yang tidak setia pada pribadi yang seharusnya mereka cintai. Ini adalah istilah yang Tuhan pakai di Perjanjian Lama untuk mengecam bangsa Israel yang telah melacurkan hati dan hidup mereka pada dewa-dewa lain. Kali ini Yakobus mengaplikasikannya kepada gereja Tuhan. Banyak orang yang mengaku pengikut Kristus tetapi hal-hal yang mereka cintai, kejar dan dambakan adalah hal-hal yang berlawanan atau melawan Kristus. Dengan kata lain, Yakobus mengatakan bahwa kita tidak bisa hidup mendua hati: sama Tuhan mau tapi sama dunia juga mau. Alec Motyer mengatakan, “Kita tidak bisa menjadi sahabat Allah kalau hati kita masih terarah pada dunia ini.”

Tiga area rawan ini adalah persoalan setiap orang Kristen. Untuk menghadapinya saya mendorong untuk kita secara rutin mengatakan safety check. Mari kita secara rutin memeriksa diri kita dan satu sama lain dengan bertanya:

  • Dalam hal keinginanku: apakah keinginanku ini berpusat pada diriku sendiri atau berpusat pada Tuhan?
  • Dalam hal doa-doaku: apakah doa-doaku diisi dengan prioritasku atau prioritas Tuhan?
  • Dalam hal-hal yang aku cintai: apakah aku mencintai nilai-nilai dunia ini atau nilai nilai Tuhan?